Kisah pemberontakan Ki Ageng Mangir yang berlangsung selama periode kekuasaan Mataram termasuk salah satu peristiwa penting dalam sejarah politik Jawa yang sarat dengan intrik dan strategi yang unik.
Pada era pemerintahan Panembahan Senapati, Mataram berselisih dengan Mangir yang berstatus sebagai Tanah Perdikan Majapahit. Penguasa Mangir saat itu menolak tunduk kepada Mataram karena merasa mewarisi kekuasaan yang diberikan secara otonom oleh Prabu Brawijaya V.
Berbagai upaya untuk menundukkan Mangir telah dilakukan oleh Panembahan Senopati, namun tidak membuat Mangir tunduk. Bahkan setelah Ki Ageng Mangir III meninggal, perlawanan terhadap Mataram justru semakin keras dilancarkan oleh putranya yang masih remaja bernama Bagus Wanabaya (Ki Ageng Mangir IV).
Atas saran Ki Jurumertani, Panembahan Senopati akhirnya menempuh strategi yang tidak biasa, dengan membentuk rombongan Tayub dimana Retna Pembayun, putri Panembahan Senopati yang cantik, menyamar sebagai ledhek (penari seni Tayub).
Dengan disertai Adipati Martalaya, Ki Jayasupanta, Ki Sandisasmita, Ki Suradipa, dan Nyai Adirasa, Retna Pembayun meninggalkan Mataram menuju ke wilayah Mangir untuk mbarang ledhek (ngamen dengan menari tayub).
Kabar adanya rombongan Tayub dengan seorang ledhek yang cantik cepat menyebar ke Mangir, hingga Bagus Wanabaya mengundangnya untuk pentas di Ndalem Mangiran. Pesona Retna Pembayun membuat Bagus Wanabaya terpikat dan akhirnya meminangnya menjadi istri.
Setelah sekian tahun pernikahan, Pembayun akhirnya mengaku bahwa sebenarnya ia adalah putri Panembahan Senopati, dan sebagai menantu yang baik sudah sepantasnya Bagus Wanabaya sungkem kepada mertuanya di Mataram.
Rasa cinta yang mendalam membuat Bagus Wanabaya menyetujui permintaan Pembayun. Dan sebagaimana dikisahkan Panembahan Senopati kemudian justru membunuh Bagus Wanabaya saat upacara sungkeman tersebut.
Tindakan Panembahan Senopati ini sangat disayangkan oleh kerabat dan pejabat Mataram. Mereka mencela tindakan Panembahan Senopati yang tidak mau memberikan pengampunan kepada musuh yang jelas-jelas sudah menyerah, apalagi musuh tersebut tidak lain adalah menantunya sendiri. Tindakan tersebut dianggap sebagai perilaku yang jahat, kejam dan jauh dari nilai-nilai budaya Jawa.
Kritik yang tertulis dalam Babad Bedhahing Mangir seakan memperkuat gambaran masyarakat Jawa yang lebih menghargai rasa welas asih dan menyepakati pengampunan komunal (communal forgiveness) daripada keberlanjutan permusuhan.
Communal Forgiveness
Dalam konteks Pilpres 2024, Prabowo Subianto, yang sebelumnya merupakan rival Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019, justru bergabung dalam kabinet Jokowi pada periode 2019-2024.
Keputusan Prabowo ini mengundang simpati dari rakyat Indonesia, terutama dari etnis Jawa yang dominan.
Rakyat Indonesia, khususnya etnis Jawa, memiliki prinsip bahwa musuh yang sudah mengalah atau menyerah tidak layak untuk dibunuh atau dihabisi.
Sikap ksatria yang ditunjukkan Prabowo dengan bergabung dalam kabinet Jokowi, meskipun sebelumnya merupakan rival, mencerminkan nilai-nilai yang dihargai oleh masyarakat Jawa.
Keputusan Prabowo untuk bekerja sama dengan pemerintahan Jokowi memberikan pesan kuat kepada masyarakat bahwa ia mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas perselisihan pribadi. Ini menambah kredibilitas dan kepercayaan masyarakat terhadapnya.
Dalam budaya politik Indonesia yang kerap kali diwarnai dengan persaingan sengit, langkah Prabowo dianggap sebagai angin segar yang membawa harapan akan stabilitas dan kerjasama yang lebih baik di masa depan.
Selain itu, keberhasilan Prabowo untuk menggalang simpati bukan hanya berasal dari strategi politiknya, tetapi juga dari kemampuannya untuk mendengarkan aspirasi rakyat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Prabowo aktif turun ke lapangan, berdialog dengan masyarakat, dan menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu yang dihadapi oleh rakyat.
Sikap terbuka dan inklusif ini semakin mengukuhkan posisinya di hati rakyat Indonesia.
Pada akhirnya, kemenangan Prabowo dalam Pilpres 2024 adalah cerminan dari dukungan rakyat yang tulus dan penghargaan terhadap sikap ksatria yang ia tunjukkan.
Meskipun dukungan Jokowi mungkin memberikan pengaruh, yang paling utama adalah bagaimana Prabowo mampu meraih hati rakyat melalui sikap dan tindakannya yang mencerminkan nilai-nilai luhur yang dihargai oleh masyarakat Indonesia.
Dengan demikian, kemenangan Prabowo pada Pilpres 2024 bukanlah semata-mata karena Jokowi effect, tetapi karena kemampuan Prabowo untuk menunjukkan sikap ksatria, mendengarkan rakyat, dan bekerja untuk kepentingan bangsa.
Sikap ini yang membuatnya diterima dan didukung oleh rakyat Indonesia, terutama etnis Jawa yang memiliki pandangan permisif dan mudah memaafkan. Kemenangan ini adalah bukti bahwa dalam politik, sikap dan tindakan yang mencerminkan nilai-nilai luhur akan selalu mendapatkan tempat di hati rakyat. (*)
Kata Kunci : Kemenangan Prabowo pada Pilpres 2024 Bukan Semata Karena Jokowi Effect
Gelar Bukan Lagi Jaminan, Human Skills Kini Jadi Mata Uang Termahal di Dunia Kerja
08 Jan 2026, 20:57 WIB
Daerah
05 Des 2025, 11:17 WIB
Daerah
27 Nov 2025, 14:20 WIB
Daerah
27 Nov 2025, 14:09 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 17:58 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 17:53 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 14:31 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 14:03 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 12:25 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 12:10 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:57 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:48 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:40 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:33 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:25 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:10 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:02 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:22 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:13 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:02 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 9:40 WIB