Dalam tradisi panjang masyarakat Jawa, nilai kehidupan tidak hanya diajarkan melalui institusi formal, melainkan melalui ungkapan, pepatah, dan filosofi sehari-hari yang diwariskan dari generasi ke generasi. Filosofi ini menjadi cerminan batin mengenai bagaimana orang Jawa menempatkan diri di tengah keluarga, masyarakat, dan alam.
Salah satu filosofi yang paling sarat makna adalah ngopeni ngelakoni, sebuah ungkapan yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya menyimpan pandangan dunia yang mendalam. Ungkapan ini membawa rangkuman nilai yang menuntun cara berpikir, cara bekerja, dan cara masyarakat Jawa memahami perjalanan hidup. Pemaknaan atas ungkapan tersebut tidak hanya relevan dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga mengandung potensi filosofis untuk dijadikan landasan pembangunan daerah pada era modern.
Dalam khazanah budaya Jawa, ungkapan filosofis sering kali mengandung dua dimensi: dimensi batin dan dimensi laku. Dimensi batin merujuk pada kesadaran, niat, dan rasa; sementara dimensi laku merujuk pada tindakan yang lahir dari kesadaran tersebut.
Filosofi ngopeni ngelakoni menggabungkan kedua dimensi itu. Ia menjadi wujud keselarasan antara merawat dan menjalankan, antara menjaga kehidupan dan bergerak maju. Pandangan ini sudah dikenal sejak lama dalam kebudayaan Jawa, yang menempatkan harmoni sebagai pusat etika sosial dan moralitas hidup.
Untuk memahami makna “ngopeni”, kita dapat mengacu pada literatur filsafat dan budaya Jawa. Ngopeni bukan sekadar berarti memelihara dalam arti fisik atau material. Dalam cara pandang Jawa, ngopeni mencakup tindakan merawat secara menyeluruh, baik lahir maupun batin, agar sesuatu tetap tumbuh, lestari, dan tidak kehilangan substansi.
Magnis-Suseno menjelaskan bahwa tindakan orang Jawa yang ideal adalah tindakan yang “halus”, yang menempatkan kepedulian dan kesadaran moral sebagai landasan perilaku. Merawat, dalam hal ini, mengandung dimensi kehadiran total: perhatian, ketelatenan, rasa memiliki, dan tanggung jawab.
Di banyak komunitas pedesaan Jawa, petani mengopeni sawahnya bukan hanya dengan memberi air atau pupuk, tetapi dengan membaca tanda-tanda alam, memahami siklus musim, dan menyelaraskan ritme hidup dengan ritme tanah. Dalam konteks keluarga, seorang ibu mengopeni anaknya melalui perhatian batin yang konstan, sebuah kehadiran emosional yang tidak bisa diukur semata oleh kebutuhan material.
Kata Kunci : Filosofi Ngopeni Nglakoni slogan terbaru Provinsi Jawa Tengah era Ahmad Luthfi
13 Nov 2025, 14:31 WIB
13 Nov 2025, 14:03 WIB
13 Nov 2025, 12:25 WIB
13 Nov 2025, 12:10 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:48 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:40 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:33 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:25 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:10 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:02 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:22 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:13 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:02 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 9:40 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 9:34 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 9:18 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 8:58 WIB
Gojapan
08 Nov 2025, 12:58 WIB
Daerah
09 Okt 2025, 19:44 WIB
Daerah
26 Sep 2025, 12:19 WIB
Daerah
08 Sep 2025, 18:21 WIB
Daerah
08 Sep 2025, 18:15 WIB
Daerah
07 Sep 2025, 14:26 WIB
Daerah
07 Sep 2025, 13:17 WIB