Anisa Hana (Hana), Callista Al Sadila (Callista), Herlina Setiawati (Herlina), Raisya Noerzahrani (Raisya), dan Zalfatekha Putri (Zalfa), dalam pelaksanaannya berperan sebagai observer (pengamat) yang melakukan kegiatan tersebut sebanyak 5 waktu dalam sehari.
Monitoring dilakukan pada waktu 07.00 WIB, 10.00 WIB, 13.00 WIB, 16.00 WIB, dan 19.00 WIB pada titik yang telah ditentukan sebelumnya.
Pelaksanaan kegiatan program kerja penginderaan urine diawali dengan survei lokasi kandang domba di Bangsal Wedus Marimulyo.
Selanjutnya, dilakukan penciuman urine dan feses di tiga lokasi yang berbeda, yaitu di stasiun 1, 2 dan 3 yang berada di antara kandang.
Observasi dilakukan sebanyak enam kali dalam sehari, yakni pada pukul 07.00, 10.00, 13.00, 15.00, 17.00, dan 19.00 WIB selama 3 hari yaitu mulai tanggal 17 – 19 Juli 2025. Setiap sesi penciuman dilakukan oleh tim dengan pendekatan observasional langsung di kandang domba.
Hasil pengamatan aroma dikategorikan ke dalam empat parameter pengukuran, yaitu: tidak bau, sedikit bau, bau, dan sangat bau.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mendokumentasikan respon fisiologis hewan terhadap perlakuan pakan maupun kondisi lingkungan kandang.
Selain itu, survei dilakukan dengan mempertimbangkan protokol kesehatan dan kebersihan untuk menjaga keselamatan baik bagi hewan maupun pengamat.
Data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis untuk menentukan hubungan antara perlakuan pakan, intensitas aroma, dan tingkat kenyamanan kandang. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mendukung pengembangan teknologi peternakan yang lebih higienis dan ramah lingkungan.
Kegiatan monitoring urine ternak pada usaha penggemukan domba di Peternakan Bangsal Wedhus Marimulyo, dilakukan bersamaan dengan aktivitas partisipatif para peternak dan penjaga kandang yang turut serta secara aktif dalam proses pengambilan dan pencatatan sampel urine.
Peternak menunjukkan antusiasme tinggi, terlihat dari keterlibatan mereka dalam setiap tahapan monitoring serta inisiatif untuk bertanya dan berdiskusi terkait tujuan dan manfaat kegiatan ini.
Mereka juga menyampaikan pengalaman serta kendala yang dihadapi dalam pengelolaan limbah ternak sehari-hari, yang menjadi masukan penting bagi pengembangan teknologi pengelolaan limbah kedepannya.
Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan bahwa sebagian besar peternak belum memiliki sistem pencatatan atau pengelolaan limbah urine secara rutin. Namun, mereka menyambut baik upaya monitoring yang dilakukan karena dianggap dapat membantu meningkatkan kualitas sanitasi kandang dan efisiensi dalam pengelolaan usaha ternak.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya potensi besar untuk penerapan teknologi pemanfaatan limbah ternak yang lebih higienis dan ramah lingkungan, serta memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, peternak, dan masyarakat dalam mendukung inovasi di sektor peternakan.
Melalui kegiatan ini diharapkan menjadi referensi dalam mengatasi permasalahan bau yang timbul akibat peningkatan aroma urine domba pada waktu-waktu tertentu.
Penginderaan sensoris terhadap kadar amonia dalam urine menjadi langkah awal dalam upaya pengelolaan bau agar lebih efektif di masa mendatang.
Kata Kunci : KKNT Undip, Klaten, Urine Domba, Sensoris, Amonia, Bangsal Wedus Marimulyo
Gelar Bukan Lagi Jaminan, Human Skills Kini Jadi Mata Uang Termahal di Dunia Kerja
08 Jan 2026, 20:57 WIB
Daerah
05 Des 2025, 11:17 WIB
Daerah
27 Nov 2025, 14:20 WIB
Daerah
27 Nov 2025, 14:09 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 17:58 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 17:53 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 14:31 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 14:03 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 12:25 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 12:10 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:57 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:48 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:40 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:33 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:25 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:10 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 11:02 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:22 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:13 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 10:02 WIB
Daerah
13 Nov 2025, 9:40 WIB