Modern
Modern
Home
»
Kesehatan
»
Detail Berita


Bahaya Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD), Perfeksionisme yang Melelahkan

Foto: OCPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan kecenderungan yang berlebihan terhadap perfeksionisme..(vantagepointrecovery.com)
Modern
Oleh : Joko Yuwono

Semarang, Gojateng.com — Pernahkah anda mengalami sebuah diskusi, dimana lawan bicara anda kerap kali mengoreksi setiap hal-hal kecil, sehingga justru mengaburkan konteks pembicaraan? Jika pernah, itu berarti anda sedang berinteraksi dengan orang yang memiliki gangguan kepribadian obsesif-kompulsif.

Sebagian orang tampak begitu tertib, rapi, dan sangat terorganisir. Mereka menjalani hidup dengan aturan-aturan yang mereka bentuk sendiri dan jarang memberi ruang untuk improvisasi.

Pada batas tertentu, karakter seperti ini bisa dianggap positif. Namun jika kebutuhan terhadap keteraturan dan kesempurnaan sudah terlalu mendominasi, bahkan mengganggu kehidupan sosial dan emosional, maka bisa jadi orang tersebut mengalami Obsessive-Compulsive Personality Disorder atau OCPD.

Apa itu OCPD?

OCPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang memiliki pola pikir dan perilaku yang sangat kaku. Mereka tidak hanya perfeksionis, tetapi juga cenderung mengontrol lingkungan dan orang-orang di sekitar mereka.

Psikiater Theodore Millon, dalam klasifikasi tipologi kepribadiannya, menyebut individu OCPD sebagai "the compulsive type" yaitu orang yang sangat patuh pada aturan, memuja kerja keras, namun menyimpan kekakuan batin yang membuatnya sulit beradaptasi.

Mereka juga sering kesulitan mendelegasikan tugas, karena merasa hanya dirinya sendiri yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan benar. Bahkan jika terpaksa harus bekerja sama, mereka akan terus mengoreksi atau mengawasi secara ketat.

Perfeksionisme mereka bukan semata-mata soal hasil, tetapi lebih pada proses yang harus sesuai standar tinggi yang mereka buat sendiri. Jika proses itu melenceng sedikit saja, maka seluruh hasil bisa dianggap tidak memuaskan.

Ciri khas ini juga terlihat jelas dalam interaksi sehari-hari, termasuk di ruang digital seperti diskusi grup atau chat online.

Sebagai misal, dalam sebuah diskusi melalui grup percakapan, seorang anggota dengan kecenderungan OCPD bisa memotong alur pembicaraan hanya untuk mengoreksi kesalahan dalam pengetikan, tata bahasa, pilihan kata, atau urutan kalimat orang lain.

Alih-alih fokus pada substansi, ia terjebak dalam detail-detail kecil yang menurutnya tidak tepat.

Akibatnya, diskusi menjadi kaku dan lambat. Peserta lain pun merasa enggan berpendapat karena takut dikritik cara penulisannya.

Konteks besar yang sedang dibicarakan pun hilang arah, dan tujuan diskusi tidak tercapai. Ini menjadi contoh nyata bagaimana perfeksionisme yang tak terkendali dapat menghambat kerja sama dan komunikasi yang sehat.

Karena pola pikir yang rigid ini, individu dengan OCPD cenderung memiliki relasi yang rumit dengan orang lain.

Di lingkungan kerja, mereka bisa menjadi rekan yang sangat detail dan bertanggung jawab, tetapi juga sulit diajak fleksibel atau kompromi. Sementara di lingkungan keluarga, mereka bisa tampak dominan atau mengontrol, mengatur segala hal dari hal kecil seperti tata letak rumah hingga kebiasaan anak-anak.

Pada akhirnya, orang-orang terdekat sering merasa tidak bebas, bahkan lelah secara emosional karena terus dikritik atau dituntut sesuai standar yang tinggi.

Yang lebih mengkhawatirkan, penderita OCPD sering kali tidak menyadari bahwa mereka memiliki gangguan. Mereka menganggap cara hidup mereka adalah yang paling benar dan logis, karena itu dorongan untuk mencari bantuan atau terapi sangat rendah.

Dalam pandangan mereka, justru orang lainlah yang harus menyesuaikan diri.

Hal ini senada dengan pendapat Aaron T. Beck, salah satu pendiri terapi kognitif, yang menyebut bahwa "orang dengan gangguan kepribadian seringkali memiliki skema kognitif yang sangat kuat, yang membuat mereka sulit menerima sudut pandang lain."

Efek negatif dari OCPD tidak hanya dirasakan oleh orang lain, tetapi juga oleh penderitanya sendiri. Mereka kerap merasa frustrasi, cemas, atau marah ketika segala sesuatu tidak sesuai harapan.

Karena terlalu fokus pada kesempurnaan, mereka seringkali tidak pernah merasa puas dengan hasil kerja sendiri. Ini bisa mengarah pada stres kronis, kelelahan mental, hingga depresi.

Psikolog klinis Dr. Ellen Hendriksen menyatakan bahwa “Perfeksionisme yang ekstrem, alih-alih membuat hidup menjadi teratur, justru bisa menjebak seseorang dalam lingkaran rasa bersalah dan ketidakpuasan yang tidak ada habisnya.”

Secara umum, OCPD tidak dianggap membahayakan secara langsung seperti gangguan kepribadian lain yang bersifat impulsif atau agresif. Namun tetap saja, dalam jangka panjang, pola kepribadian ini bisa menjadi penghambat dalam kehidupan profesional dan personal. Relasi bisa renggang, karier bisa stagnan karena ketidaksanggupan bekerja dalam tim, dan penderita bisa merasa terisolasi secara sosial meskipun secara fungsi terlihat “normal”.

Meski termasuk gangguan kepribadian yang menetap, OCPD tetap bisa dikelola. Terapi kognitif perilaku menjadi pendekatan utama yang cukup efektif.

Dalam terapi ini, penderita diajak mengenali pola pikir kaku dan mencoba mengembangkan cara berpikir yang lebih fleksibel.

Pendekatan ini telah terbukti efektif dalam mengurangi tingkat kecemasan dan meningkatkan kesadaran akan kebutuhan kontrol yang tidak rasional.

Selain itu, pendekatan mindfulness juga bisa membantu mereka belajar melepaskan kontrol dan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari kehidupan.

Dalam beberapa kasus, obat-obatan seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) dapat diberikan oleh dokter untuk mengurangi kecemasan atau gejala obsesif yang menyertainya.

Bagi orang-orang yang harus berinteraksi dengan penderita OCPD, penting untuk memahami bahwa di balik sikap keras kepala atau terlalu kritis itu, sering kali tersembunyi ketakutan akan kegagalan atau rasa tidak aman.

Tidak semua kritik yang mereka lontarkan dimaksudkan untuk menyerang; kadang itu muncul karena mereka merasa cemas.

Maka, bersikap tenang, tegas, dan tidak reaktif bisa menjadi kunci menjaga hubungan tetap sehat. Bila diperlukan, menjaga jarak emosional juga merupakan langkah yang bijak agar tidak ikut terseret ke dalam pola perfeksionistik yang melelahkan.

Memahami OCPD adalah upaya untuk melihat lebih dalam ke dalam kompleksitas kepribadian manusia. Ini bukan tentang menyalahkan atau menghakimi, melainkan tentang mencari cara agar individu dengan kecenderungan tersebut bisa hidup lebih tenang, menerima ketidaksempurnaan, dan membangun hubungan yang lebih hangat dengan orang-orang di sekitarnya. (*)

Halaman :

Kata Kunci : Apa dan bagaimana gejala Memahami Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD)

Sorotan


Dari Kampus untuk Lingkungan: Rewearth 2025 Berhasil Salurkan Ribuan Pakaian ke Masyarakat

Daerah

MARINA Talks Workshop: Advancing Multi-Stakeholder Collaboration to Safeguard Central Java`s Migrant Fishers from Exploitation

Daerah

Workshop MARINA Talks: Memperkuat Kolaborasi Lintas Sektor dalam Melindungi Awak Kapal Perikanan (AKP) Migran Asal Jawa Tengah dari Praktik Eksploitasi

Daerah

Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa UNDIP Maksimalkan Potensi Gula Aren Desa Tumbrep melalui Program Pengadaan Termometer Digital: Solusi Tepat Jaga Kualitas Gula Aren oleh Mahasiswa Kemendiktisaintek 2025

Daerah

Program Pemberdayaan Masyarakat Kemdiktisaintek Mahasiswa UNDIP Maksimalkan Potensi Gula Aren Desa Tumbrep melalui Program Pengadaan Saringan Nylon, Solusi Jaga Kebersihan dan Mutu Gula Aren

Daerah

Pasang Iklan

Pilihan Redaksi

Program Pemberdayaan Masyarakat Kemdiktisaintek: Mahasiswa KKN UNDIP Melaksanakan Edukasi Tentang Restorasi Mikro Guna Mendukung Program SDGs 13 dan 15

Daerah

Program Pemberdayaan Masyarakat Kemdiktisaintek: Mahasiswa KKN UNDIP Melaksanakan Edukasi Kebersihan di Rumah Produksi Gula Aren untuk Mendukung SDGs 3 dan 6

Daerah

Edukasi Pajak Pertambahan Nilai Kepada Remaja Masjid di Dukuh Tumbrep Batang melalui Program Pendampingan Masyarakat Kemdiktisaintek 2025

Daerah

Mahasiswa Undip Tanamkan Kesadaran Pajak Hiburan pada Remaja Desa Tumbrep melalui Program Pendampingan Masyarakat Kemdiktisaintek 2025

Daerah

Mahasiswa KKN Undip Edukasi Remaja tentang Pentingnya Investasi di Era Digital melalui Program Pendampingan Masyarakat Kemdiktisaintek 2025

Daerah

Pasang Iklan

Baca Juga

Mahasiswa KKN Undip Beri Edukasi Bahaya Judi Online bagi Remaja Desa Tumbrep melalui Program Pendampingan Masyarakat Kemdiktisaintek 2025

Daerah

Program Pemberdayaan Masyarakat Oleh Mahasiswa Kemdiktisaintek: Mahasiswa KKN-T UNDIP Dorong Hak dan Perlindungan Remaja di Desa Tumbrep

Daerah

Program PMM Kemdiktisaintek: Sosialisasi Bahaya Merokok Oleh Mahasiswa KKNT UNDIP, Remaja Desa Tumbrep Tunjukkan Antusiasme Tinggi

Daerah

Program Pemberdayaan Masyarakat Oleh Mahasiswa Kemdiktisaintek: Es Krim Gula Aren Menjadi Media Seru Untuk Belajar Bahasa Inggris Anak MI 1 Tumbrep Oleh Mahasiswa KKNT UNDIP Kemdiktisaintek

Daerah

Program PMM Kemdiktisaintek : Aquaponik, Inovasi Hijau untuk Agroekowisata Edukasi Anak Sekolah oleh Mahasiswa KKNT UNDIP Kemdiktisaintek

Daerah

Pasang Iklan

Berita Lainnya

Program PMM Kemdiktisaintek : Mahasiswa KKN-T Kemdiktisaintek UNDIP Gelar Sosialisasi 5R untuk UMKM dan Masyarakat di Desa Tumbrep

Daerah

Program Pemberdayaan Masyarakat Oleh Mahasiswa Kemdiktisaintek : Mahasiswa KKN-T Kemdiktisaintek UNDIP Dorong Kesadaran Pengelolaan Sampah Lewat Program "Lindungi Lingkungan" di Desa Tumbrep

Daerah

Program PMM Kemdiktisaintek: Mahasiswa KKN Undip Promosikan Identitas Digital UMKM Gula Aren Turens Desa Tumbrep Lewat Instagram

Daerah

Program Pemberdayaan Masyarakat Oleh Mahasiswa Kemdiktisaintek: Mahasiswa KKNT Undip Hadirkan Buku Panduan Bisnis untuk Remaja & Warga Desa Tumbrep

Daerah

Program PMM Kemdiktisaintek : Mahasiswa KKN-T Kemdiktisaintek UNDIP Gelar Program “SADAR” untuk Cegah Penyalahgunaan Narkoba di Desa Tumbrep

Daerah

Pasang Iklan
Goenglish
Lihat Semua